19 July 2017

Analisis Lengkap Kenapa Pemerintah Menutup Telegram

Sempat menjadi Tranding Topik baik di Media Sosial ataupun Media Sosial dengan ditutupnya layanan Aplikasi Media Sosial Telegram berbasis Web dan untuk versi Mobile masih bisa digunakan. Pemerintah melalui Kemenkominfo mengeluarkan siaran pers bernomor NO. 86/HM/KOMINFO/07/2017 yang isinya dengan berat hati harus menutup layanan Telegram berbasis Web dengan alasan Permintaan Standar Operasional dari Kemenkominfo melalui email sejak Maret 2016 sampai Juli 2017 tidak ditanggapi Pihak Telegram.

Kenapa Telegram ditutup?

Telegram adalah aplikasi yang sama dengan aplikasi media sosial lainnya seperti WhatsApp, Messenger, BBM, Line, dll namun kenapa hanya Telegram?

Menurut Menkominfo Rudiantara bahwa  konten yang ada pada Telegram bermuatan radikalisme dan terorisme yang beredar melalui Telegram. Lalu apakah Facebook, Youtube, WhatsApp, Line, BBM, Blog, dll tidak mengandung konten bermuatan Radikalisme dan Terorisme?

Menurut Menkominfo Rudiantara bahwa Pemerintah akan membuka Dialog jika pihak Telegram sudah menyiapkan standard operating procedure (SOP). Itu artinya akan adanya kesepakatan bagaimana caranya agar pemerintah dapat mengakses data akun telegram yang bertentangan dengan UU.

Kembali ke pertanyaan diatas? Jika Pemerintah hanya meminta SOP dari Pihak Telegram itu artinya besar kemungkinan Pemerintah sudah memiliki Kesepakatan atau Akses Data dengan Facebook, WhatsApp, Line, BBB, dll.

Telegram menggunakan Enkripsi End to End

Salah satu kelebihan dari Telegram sehingga banyak digunakan kaum Radikal ataupun sebagai media Favorit orang tertentu adalah karena Telegram menggunakan Enkripsi End to End. Enkripsi ini terbilang ampuh sebagai media komunikasi agar data komunikasi asli tidak tertinggal di Server. Komunikasi antara dua orang untuk mencegah terjadinya serangan Hacker dengan Teknik Man in Middle Attack. Sebuah teknik yang melakukan pembajakan ditengah-tengah dua orang yang berkomunikasi.

Lalu, bukankah WhatsApp juga menggunakan Enkripsi End to End?

Menyikapi pernyataan Menkominfo Rudiantara bahwa Pemerintah memerlukan SOP untuk mengakses data secara cepat baik untuk keperluan Intelijen, Pemetaan, dll.
CEO Telegram langsung meminta maaf atas kejadian ini, dan akan secepatnya melakukan dialog.

Satu hal yang disepakati adalah pihak Telegram akan menawarkan Fitur "Self Censoring" dimana system telegram akan memberikan warning kepada pemerintah jika ada kata-kata atau akun yang mencurigakan berbau radikal, teroris dan konten yang bertentangan dengan pemerintah.

Inilah penjelasan singkat dari Hackindo semoga tidak terjadi salah paham di Publik, dikarenakan publik kita terkadang hanya membaca judul lalu memvonis dan berdebat, faktornya banyak, mungkin karena terbatasnya kuota internet atau budaya membaca yang kurang.

No comments:

Post a Comment

Cara mengetahui Android Kamu sudah di Root atau belum

Artikel ini akan membahas bagaimana cara mengetahui Android kamu sudah Root atau belum . Root merupakan media Eksperimen untuk hal-hal bar...